Hak Pasien dan Keluarga, HPK, HPK Rumah Sakit, Pelatihan Hpk, Pelatihan HPK Rumah Sakit

HPK – Hak Pasien dan Keluarga – HPK Rumah Sakit – Pelatihan HPK – Pelatihan HPK Rumah Sakit

Hak Pasien dan Keluarga (HPK)

Hak Pasien dan Keluarga (HPK)

Hak pasien dan keluarga (HPK) adalah suatu kegiatan pelayanan dalam mengidentifikasi, melindungi, memberitahu, memutuskan proses pelayanan, menyepakati atas tindakan pelayanan setelah mendapatkan penjelasan sebagai haknya selama pelayanan dirumah sakit.

  • Hak adalah tuntutan seseorang terhadap sesuatu yang merupakan kebutuhan pribadi, sesuai dengan keadilan, moralitas dan legalitas.
  • Kewajiban adalah sesuatu yang harus dilakukan dan tidak boleh bila tidak dilaksanakan.
  • Pasien adalah penerima jasa pelayanan kesehatan di Rumah Sakit baik didalam maupun diluar Rumah Sakit.
  • Keluarga adalah suami atau istri, ayah ibu kandung, anak-anak kandung, saudara—saudara kandung atau pengampunya.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 4 tahun 2018 tentang Kewajiban Rumah Sakit dan Kewajiban Pasien

Hak Pasien dan Keluarga (HPK)

Hak Pasien dan Keluarga (HPK)

  1. Memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit
  2. Memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban Pasien
  3. Memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa diskriminasi
  4. Memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional;
  5. Memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga Pasien terhindar dari kerugian fisik dan materi;
  6. Mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan;
  7. Memilih dokter, dokter gigi, dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit;
  8. Meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain yang mempunyai Surat Izin Praktik (SIP) baik di dalam maupun di luar Rumah Sakit
  9. Mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data medisnya;
  10. Mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis, tujuan tindakan medis, alternatif tindakan, risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan;
  11. Memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan oleh Tenaga Kesehatan
  12. Didampingi keluarganya dalam keadaan kritis;
  13. Menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang dianutnya selama hal itu tidak mengganggu Pasien lainnya;
  14. Memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di Rumah Sakit;
  15. Mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit terhadap dirinya;
  16. Menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya;
  17. Menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata ataupun pidana; dan
  18. Mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai dengan standar pelayanan melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Kewajiban Pasien dan Keluarga

  1. Mematuhi peraturan yang berlaku di Rumah Sakit
  2. Menggunakan fasilitas Rumah Sakit secara bertanggung jawab
  3. Menghormati hak Pasien lain, pengunjung dan hak Tenaga Kesehatan serta petugas lainnya yang bekerja di Rumah Sakit ;
  4. Memberikan informasi yang jujur, lengkap dan akurat sesuai dengan kemampuan dan pengetahuannya tentang masalah kesehatannya;
  5. Memberikan informasi mengenai kemampuan finansial dan jaminan kesehatan yang dimilikinya;
  6. Mematuhi rencana terapi yang direkomendasikan oleh Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit dan disetujui oleh Pasien yang bersangkutan setelah mendapatkan penjelasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
  7. Menerima segala konsekuensi atas keputusan pribadinya untuk menolak rencana terapi yang direkomendasikan oleh Tenaga Kesehatan dan/atau tidak mematuhi petunjuk yang diberikan oleh Tenaga
  8. Kesehatan untuk penyembuhan penyakit atau masalah kesehatannya; dan
  9. Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima

Lebih lanjut terkait informasi PELATIHAN HAK PASIEN DAN KELUARGA (HPK) KLIK DISINI

Pelatihan HPK

Pelatihan TNT Gizi, Pelatihan TNT Gizi 2023, Pelatihan TNT Gizi 2024, TNT Gizi, Total Nutrition Therapy

TNT Gizi – Total Nutrition Therapy – Pelatihan TNT – Pelatihan TNT Gizi 2023 – Pelatihan TNT Gizi 2024

GIZI

tnt gizi

Gizi adalah zat makanan pokok yang diperlukan bagi pertumbuhan dan kesehatan tubuh. Gizi seimbang adalah susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh yaitu jenis kelamin, umur dan status kesehatan. Pola makan yang tidak bergizi seimbang beresiko menyebabkan kekurangan gizi seperti anemia dan berat badan kurang, dapat pula terjadi gizi berlebih (obesitas) yang dapat beresiko terjadinya penyakit degeneratif seperti hipertensi, penyakit jantung koroner dan diabetes melitus.

Dalam ilmu gizi dikenal lima macam zat gizi, yaitu karbohidrat, lemak, protein, mineral dan vitamin. Secara umum fungsi dari zat-zat makanan adalah:

  • Sumber energi atau tenaga. Jika fungsi ini terganggu, orang menjadi berkurang geraknya atau kurang giat dan merasa cepat lelah.
  • Menyokong pertumbuhan badan, yaitu penambahan sel baru pada sel yang sudah ada.
  • Memelihara jaringan tubuh, mengganti yang rusak atau aus terpakai, seperti mengganti sel yang tampak jelas pada luka tubuh yaitu terjadinya jaringan penutup luka.
  • Mengatur metabolisme dan berbagai keseimbangan dalam cairan tubuh (keseimbangan air, asam basa, dan mineral)
  • Berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap berbagai penyakit sebagai antioksidan dan antibodi lainnya.

Apabila tubuh tidak cukup mendapat zat-zat gizi, maka fungsi-fungsi itu akan menderita gangguan dan hambatan, mulai dari fungsi nomor satu, dan menjalar ke arah bahwa dalam deretan itu.

Baca juga : Pelatihan TNT Gizi – Pelatihan Total Nutrition Therapy Gizi – Pelatihan TNT Gizi 2024

Prinsip Gizi Seimbang terdiri dari 4 (empat) Pilar yang pada dasarnya merupakan rangkaian upaya untuk menyeimbangkan antara zat gizi yang keluar dan zat gizi yang masuk dengan memantau berat badan secara teratur.

4 (empat) Pilar Gizi seimbang mencakup :

  • Mengonsumsi anekaragam pangan dengan proporsi makanan yang seimbang (karbohidrat, lemak, protein, mineral dan vitamin)
  • Membiasakan perilaku hidup bersih
  • Melakukan aktivitas fisik yang teratur
  • Memantau Berat Badan (BB) secara teratur untuk mempertahankan berat badan normal

Dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih dan mempertahankan berat badan normal akan dapat mencegah terjadinya masalah gizi.

Untuk mencapai masukan zat gizi yang seimbang tidak mungkin dipenuhi hanya oleh satu jenis bahan makanan, melainkan harus terdiri dari aneka ragam bahan makanan.

Dalam memilih asupan makanan bukan hanya dilihat dari faktor menyenangkan saja, tetapi juga perlu memilih makanan yang menyehatkan.

Lebih lanjut terkait informasi PELATIHAN TNT GIZI KLIK DISINI

ICU NICU, Pelatihan ICU, Pelatihan ICU 2024, Pelatihan NICU, Pelatihan NICU 2024

ICU NICU – Pelatihan ICU – Pelatihan ICU 2024 – Pelatihan NICU – Pelatihan NICU 2024

ICU NICU

Di rumah sakit, ruang perawatan intensif merupakan unit perawatan untuk pasien dengan penyakit serius dan butuh pemantauan ketat. Ruangan ini umumnya dilengkapi dengan peralatan dan tenaga kesehatan yang juga khusus. Ruang perawatan intensif terbagi dalam berbagai jenis dengan fungsi yang berbeda-beda, sesuai peruntukannya.

Intensive Care Unit (ICU)

ICU adalah ruang khusus bagi pasien kritis yang perlu perawatan intensif dan pengawasan terus menerus. ICU menyediakan tindakan medis yang bersifat kritis dan sistem pendukung fungsi organ tubuh (life support) pada pasien yang sakit akut atau terluka parah. Beberapa kondisi pasien yang ditangani di ICU adalah luka besar (major trauma), luka bakar parah, gagal napas, pasien usai transplantasi organ, operasi kardiotoraks, dan tulang punggung kompleks. Pasien yang tidak dalam kondisi akut memerlukan persetujuan dari dokter yang bersangkutan untuk dikirim ke ICU.

Neonatal Intensive Care Unit (NICU)

NICU menyediakan pelayanan khusus bagi bayi baru lahir atau yang memiliki kesulitan. Pasien NICU adalah bayi prematur berusia 23-24 minggu hingga 40 minggu, yang biasanya memiliki sistem pencernaan normal. Dalam beberapa kasus, bayi biasanya tidak lagi diterima di NICU bila sakit setelah keluar dari fasilitas layanan kesehatan. Rumah sakit biasanya khawatir bayi yang kondisinya tidak baik akan menginfeksi pasien yang lain. Dalam kondisi ini, bayi yang membutuhkan penanganan gawat darurat biasanya akan dikirim ke Pediatric Intensive Care Unit (PICU).

Baca Juga : Pelatihan ICU NICU Rumah Sakit – Pelatihan Manajamen ICU NICU – Pelatihan Pelayanan ICU NICU

Pediatric Intensive Care Unit (PICU)

PICU tempat anak-anak berusia 1-18 tahun menerima perawatan kritis yaitu anak-anak yang mengalami kondisi parah dan mengancam jiwa seperti asma, infeksi, kecelakaan, kejadian hampir tenggelam dan kondisi jantung biasanya di ICU anak. Beberapa anak dirawat di PICU setelah menjalani operasi rumit yang dapat memengaruhi sistem pernapasan.

Ketiga ruangan yang telah disebutkan di atas adalah ruangan untuk merawat pasien secara intensif. ICU diperuntukkan pada pasien dewasa, NICU adalah untuk pasien bayi baru lahir, sedangkan PICU untuk pasien bayi, balita, hingga umur 17 tahun.

High Care Unit (HCU)

Ruang HCU

Intesitifitas pelayanan di HCU berada di bawah ICU sebelum dikembalikan ke ruang rawat inap. HCU diperuntukan bagi pasien yang menunjukkan perbaikan kondisi, tidak perlu lagi ditangani di ICU, namun masih perlu pengawasan ketat dari tenaga medis. Di Indonesia, peraturan mengenai HCU ada di Keputusan Menteri Kesehatan nomor 834 tahun 2010. Adanya HCU diharapkan dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi layanan di ICU bagi pasien. Kondisi pasien HCU dijelaskan memiliki kondisi respirasi, hemodinamik, dan kesadaran yang stabil.

Intensive Coronary Care Unit (ICCU)

ICCU sebenarnya sama dengan ICU namun khusus untuk gangguan jantung. Beberapa kondisi yang bisa ditangani di ICCU adalah jantung koroner, serangan jantung, gangguan irama jantung, dan gagal jantung. ICCU menjadi bagian dari pusat pelayanan jantung dan pembuluh darah di beberapa rumah sakit. Sebagai fasilitas vaskuler yang diprioritaskan untuk pasien dengan komplikasi penyakit kardiologi, pasien ICCU biasanya dalam kondisi tidak stabil dan butuh penanganan serta perhatian ekstra dari tenaga medis.

Komunikasi Terapeutik, Komunikasi Terapeutik Adalah, Komunikasi Terapeutik Bidan, Komunikasi Terapeutik Keperawatan, Komunikasi Terapeutik Perawat

Komunikasi Terapeutik – Komunikasi Terapeutik Adalah – Komunikasi Terapeutik Perawat – Komunikasi Terapeutik Keperawatan – Komunikasi Terapeutik Bidan

KOMUNIKASI TERAPEUTIK

Komunikasi Terapeutik

Komunikasi adalah suatu alat yang penting untuk membina hubungan teraupetik dan dapat mempengaruhi kualitas pelayanan keperawatan. Komunikasi teraupetik menjadi sangat penting karena dapat mempengaruhi tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang dirancang dan direncanakan untuk tujuan terapi, dalam rangka membina hubungan antara perawat dengan pasien agar dapat beradaptasi dengan stress, mengatasi gangguan psikologis, sehingga dapat melegakan serta membuat pasien merasa nyaman, yang pada akhirnya mempercepat proses kesembuhan pasien.

Komunikasi terapeutik sangat penting dan merupakan komunikasi yang direncanakan secara sadar dan dipusatkan serta bertujuan untuk kesembuhan pasien. Seluruh perilaku dan pesan yang disampaikan perawat hendaknya bertujuan terapeutik untuk pasien. Komunikasi terapeutik bukan tentang apa yang dilakukan oleh seorang perawat, tetapi bagaimana perawat itu melakukan komunikasi dengan pasien serta mengembangkan hubungan yang saling membantu antara perawat dengan pasien yang dengan tujuan untuk kesembuhan pasien tersebut.

Hubungan antara pasien dengan perawat yang terapeutik merupakan pengalaman belajar bersama sekaligus perbaikan emosi pasien. Komunikasi terapeutik harus berjalan secara efektif antara pasien dengan perawat sehingga saling menghargai satu sama lainnya. Proses komunikasi terapeutik harus dengan pendekatan yang direncanakan, berfokus pada pasien, dan di pimpin oleh seorang profesional. Komunikasi terapeutik juga mengembangkan hubungan interpersonal antara pasien dan juga perawat, sehingga perawat mempunyai kemampuan khusus dan harus memperhatikan setiap interaksi dan tingkah laku nonverbal. Kelemahan dalam berkomunikasi merupakan masalah yang serius bagi perawat maupun pasien.

Salah satu hal yang mendukung kesembuhan pasien tidak hanya memberikan informasi tentang kesehatannya tapi mendengarkan keluhan pasien, empati, edukasi dan pelayanan yang ramah juga sangat mempengaruhi kesembuhan pasien. Komunikasi terapeutik yang baik akan memberikan kepuasan tersendiri oleh pasien. Pada akhirnya akan mempengaruhi kepuasan pasien terhadap pelayanan yang diberikan di rumah sakit.

Fungsi Komunikasi Terapeutik

Fungsi komunikasi teraupetik menurut Stuart dan Sundeen (1995):

  1. Meningkatkan tingkat kemandirian klien melalui proses realisasi diri, penerimaan diri dan rasa hormat terhadap diri sendiri.
  2. Identitas diri yang jelas dan rasa integritas yang tinggi.
  3. Kemampuan untuk membina hubungan interpersonal yang intim dan saling tergantung dan mencintai.
  4. Meningkatkan kesejahteraan klien dengan peningkatan fungsi dan kemampuan memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan personal yang realistik.

Dalam keperawatan komunikasi sangat penting untuk memengaruhi secara positif terhadap perilaku pasien (klien) yang berkaitan erat dengan kesehatan dan tindakan (asuhan) keperawatan penyakit pasien (klien) yang menggunakan prinsip- prinsip komunikasi. Prosesmemengaruhi perilaku ini bersifat terapeutik, yakni pada usaha pertolongan, perawatan, penyembuhan, dan mengedukasi pasien (klien). Komunikasi dalam praktik keperawatan berlangsung secara kolaborasi antara perawat dan perawat, perawat dan dokter, perawat dan pasien (klien) secara propesional, bermoral, dan bertanggung jawab.

Isi komunikasi teraupetik yaitu tentang diagnosa penyakit, manfaat, urgensinya tindakan medis, resiko, komplikasi yang mungkin dapat terjadi, prosedur alternatif yang dapat dilakukan, konsekuensi yang dapat terjadi apabila tidak dilakukan tindakan medis, prognosis penyakit, dampak yang ditimbulkan dari tindakan medis serta keberhasilan atau ketidakberhasilan dari tindakan medis tersebut.

Kemampuan perawat dalam menerapkan tehnik komunikasi terapeutik memerlukan latihan dan kepekaan serta ketajaman perasaan, karena komunikasi terjadi tidak hanya tergantung kemampuan tetapi juga dalam dimensi nilai, waktu dan ruang yang turut mempengaruhi keberhasilan komunikasi yang terlihat melalui dampak terapeutiknya bagi kesehatan pasien dan juga kepuasan.

Perawat yang berkomunikasi dengan baik akan menciptakan mutu pelayanan yang memuaskan untuk pasien dan kelurga pasien. Mutu pelayanan kesehatan dapat di pengaruhi beberapa hal salah satunya iyalah komunikasi perawat pada pasien.

Lebih lanjut terkait informasi PELATIHAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK KLIK DISINI

Pelatihan Komunikasi Terapeutik

Farmasi Klinik, Farmasi Klinis, Pelatihan Farmasi Klinik, Pelatihan Farmasi Klinik 2024, Pelatihan Farmasi Klinis 2024

Farmasi Klinik – Farmasi Klinis – Pelatihan Farmasi Klinik – Pelatihan Farmasi Klinik 2024 – Pelatihan Farmasi Klinis 2024

FARMASI KLINIK

Farmasi Klinik

Farmasi Klinis merupakan praktek kefarmasian yang berorientasi kepada pasien lebih dari orientasi kepada produk. Praktek pelayanan farmasi klinik di Indonesia relatif baru berkembang pada tahun 2000-an. Dimulai dengan adanya beberapa farmasis yang belajar Farmasi Klinis di berbagai institusi pendidikan di luar negeri. Istilah farmasi klinik mulai muncul pada tahun 1960-an di Amerika, yaitu suatu disiplin ilmu farmasi (Pharmacy Clinical Science) yang dikembangkan dengan menekankan fungsi farmasis dalam memberikan asuhan kefarmasian (Pharmaceutical Care) kepada pasien. Tujuan farmasi klinis adalah untuk memaksimalkan efek terapi, meminimalkan resiko, meminimalkan biaya pengobatan, serta menghormati pilihan pasien.

Farmasi Klinis adalah cabang farmasi di mana apoteker klinis memberikan perawatan pasien secara langsung yang mengoptimalkan penggunaan obat-obatan dan meningkatkan kesehatan, kebugaran, dan pencegahan penyakit. Apoteker klinis merawat pasien di semua pengaturan perawatan kesehatan. Gerakan farmasi klinis awalnya dimulai di dalam rumah sakit dan klinik.

Apoteker klinis sering bekerja dalam kolaborasi dengan dokter, asisten dokter, praktisi perawat, dan profesional kesehatan lainnya. Apoteker klinis dapat mengadakan perjanjian praktik kolaborasi formal dengan penyedia layanan kesehatan lain, umumnya satu atau lebih dokter, yang memungkinkan apoteker meresepkan obat dan memesan tes laboratorium.

Berperan dalam sistem perawatan kesehatan

Farmasi Klinik

Dalam sistem perawatan kesehatan, apoteker klinis adalah ahli dalam penggunaan obat terapeutik. Mereka secara rutin memberikan evaluasi dan rekomendasi terapi pengobatan kepada pasien dan profesional perawatan kesehatan lainnya. Apoteker klinis adalah sumber utama informasi dan saran yang valid secara ilmiah mengenai penggunaan obat yang aman, tepat, dan hemat biaya. Apoteker klinis juga membuat diri mereka lebih mudah tersedia untuk umum. Di masa lalu, akses ke apoteker klinis terbatas pada rumah sakit, klinik, atau lembaga pendidikan. Namun, apoteker klinis menyediakan diri mereka melalui hotline informasi pengobatan, dan meninjau daftar obat, semuanya dalam upaya untuk mencegah kesalahan pengobatan di masa mendatang.

Pada negara Inggris, apoteker klinis secara rutin terlibat dalam perawatan langsung pasien di rumah sakit, dan semakin, dalam operasi dokter. Mereka juga mengembangkan pendidikan profesional pasca pendaftaran, kurikulum profesional untuk pengembangan tenaga kerja, memberikan keahlian tentang penggunaan obat-obatan untuk organisasi nasional seperti NICE, Departemen Kesehatan, dan MHRA, dan mengembangkan pedoman obat-obatan untuk digunakan di bidang terapeutik.

Apoteker klinis berinteraksi langsung dengan pasien dalam beberapa cara berbeda. Mereka menggunakan pengetahuan mereka tentang pengobatan (termasuk dosis, interaksi obat, efek samping, biaya, efektivitas, dll) untuk menentukan apakah rencana pengobatan sesuai untuk pasien mereka. Jika tidak, apoteker akan berkonsultasi dengan dokter utama untuk memastikan bahwa pasien menjalani rencana pengobatan yang tepat. Apoteker juga bekerja untuk mendidik pasien mereka tentang pentingnya minum obat dan menyelesaikannya.

Komponen dasar praktik farmasi termasuk obat resep, pemberian obat, pemantauan resep, mengelola penggunaan obat, dan konseling pasien.

Lebih lanjut terkait informasi PELATIHAN FARMASI KLINIK KLIK DISINI

NICU PICU, Pelatihan NICU PICU, Pelatihan NICU PICU 2024, Pelatihan PICU NICU 2024, PICU NICU

NICU PICU – PICU NICU – Pelatihan NICU PICU – Pelatihan NICU PICU 2024 – Pelatihan PICU NICU 2024

PERBEDAAN NICU PICU

Kondisi yang Memaksa Bayi Harus Dirawat di NICU

NICU adalah unit perawatan intensif yang dirancang khusus untuk bayi baru lahir dengan kondisi kritis atau masalah kesehatan serius. Pasien yang dirawat di ruang NICU ini memiliki rentang usia mulai dari bayi baru lahir hingga bayi berusia 28 hari. Berbeda dengan NICU, PICU dikhususkan untuk bayi berusia di atas 1 bulan dan anak berusia antara 1 hingga 18 tahun dengan kondisi kritis.

NICU (NEONATAL INSTENSIVE CARE UNIT)

Beberapa kondisi yang menyebabkan bayi membutuhkan perawatan di NICU adalah bayi prematur, cacat bawaan yang berat, gagal napas, infeksi serius (sepsis), dehidrasi, atau pendarahan yang berlebihan. Untuk merawat kondisi bayi yang kritis, ruang NICU dilengkapi dengan berbagai perlengkapan, antara lain:

  1. Alat Bantu Napas
    Berbagai alat bantu pernapasan tersedia di ruang unit perawatan intensif neonatal, seperti tabung oksigen, tabung oksigen atau masker oksigen dan ventilator. Alat ini digunakan untuk membantu bayi yang mengalami kesulitan bernapas atau tidak bisa bernapas sama sekali. Saat merawat bayi dengan masalah pernapasan parah, dokter sering kali harus melakukan intubasi untuk memasang selang pernapasan, yang kemudian disambungkan ke ventilator agar bayi tetap bernapas.
  2. Alat penghangat bayi
    Bayi baru lahir, terutama bayi prematur, memiliki jaringan lemak yang lebih sedikit sehingga berisiko terkena kedinginan atau hipotermia. Oleh karena itu, ruangan di NICU biasanya memiliki alat penghangat bayi untuk menjaga suhu tubuh bayi tetap hangat.
  3. Inkubator
    Inkubator adalah alat berupa kotak khusus untuk bayi yang dindingnya terbuat dari plastik tebal dan transparan, serta memiliki pengatur suhu yang mencegah bayi kedinginan. Alat ini juga melindungi bayi dari infeksi.
  4. Monitor tanda-tanda vital
    Ruang NICU juga memiliki monitor untuk memantau tanda-tanda vital bayi, seperti kadar oksigen darah bayi, laju pernapasan, detak jantung, suhu tubuh, dan tekanan darah.

Ruang NICU juga memiliki berbagai perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang kesehatan bayi, seperti: fototerapi dan feeding tube yang dimasukkan ke dalam hidung atau mulut bayi untuk menyusui atau ASI.

PICU (PEDIATRIC INSTENSIVE CARE UNIT)

Sementara itu, ruang PICU biasanya disediakan untuk bayi yang lebih besar dan anak-anak dengan kondisi berat atau yang mengancam jiwa. Seperti asma parah, dehidrasi berat, pendarahan akibat cedera serius atau kecelakaan, sepsis, kegagalan organ, keracunan, dan meningitis. Bayi atau anak yang baru menjalani operasi besar juga biasanya perlu dirawat di unit perawatan intensif selama beberapa waktu.

Seperti NICU, ruang PICU juga dilengkapi dengan berbagai perangkat medis untuk memantau dan merawat kondisi kritis bayi dan anak. Alat medis tersebut mulai dari inkubator, mesin fototerapi, ventilator, tabung oksigen hingga defibrillator khusus anak.

PERAWATAN DI NICU DAN PICU

Ruang NICU dan PICU juga memiliki berbagai obat darurat seperti dobutamin dan epinephrine yang dapat diperlukan sewaktu-waktu ketika kondisi pasien semakin kritis.

Saat bayi dan anak dengan penyakit kritis dirawat di unit perawatan intensif NICU dan PICU, mereka diawasi dan diperiksa secara ketat oleh tim medis yang terdiri dari dokter umum, dokter anak, dan perawat. Di ruang intensif ini, orang tua dapat menemani anak yang sakit, namun jumlah pengunjung lain dan waktu berkunjung dibatasi. Tujuannya adalah untuk menciptakan suasana yang tenang dan nyaman bagi pasien serta mencegah terjadinya penularan atau terkena infeksi.

Prinsip merawat bayi dan anak kritis di unit perawatan intensif ini sebenarnya tidak jauh berbeda. Perbedaan antara NICU dan PICU adalah kelompok usia pasien yang memengaruhi jenis serta ukuran alat medis.

Lebih lanjut terkait informasi PELATIHAN MANAJEMEN LAYANAN NICU PICU KLIK DISINI

Pelatihan NICU PICU Pelatihan NICU PICU

Pelatihan PPI Dasar, Pelatihan PPI Dasar 2023, Pelatihan PPI Dasar 2024, PPI Dasar, PPID

PPI Dasar – PPID – Pelatihan PPI Dasar – Pelatihan PPI Dasar 2023 – Pelatihan PPI Dasar 2024

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI (PPI) DASAR

PPI DASAR

Pencegahan dan Pengendalian Infeksi yang selanjutnya disingkat PPI adalah upaya untuk mencegah dan meminimalkan terjadinya infeksi pada pasien, petugas, pengunjung, dan masyarakat sekitar fasilitas pelayanan kesehatan.

Rumah Sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya memiliki peran untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang meliputi preventif, kuratif, rehabilitatif dan promotif. Pelayanan kesehatan yang diberikan harus bermutu, bertanggung jawab dan transparan, untuk keamanan pasien (patient safety) Salah satu goals dari Patient safety adalah menurunkan insiden rate infeksi terkait pelayanan kesehatan yang saat ini dikenal sebagai HAIs (Healtcare Associetd Infections).

HAIs (Healtcare Associetd Infections)

HAIs merupakan masalah besar di seluruh pelayanan kesehatan baik di Negara maju maupun di Negara berkembang, termasuk Indonesia. Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa melaporkan rata-rata prevalensi HAIs 7,1 % di negara-negara Eropa, di Amerika Serikat (AS) adalah 4,5%. Prevalensi infeksi terkait pelayanan kesehatan/HAIs di negara maju bervariasi antara 3,5% dan 12%. Semakin lama pasien tinggal di ICU, semakinlebih berisiko mereka menjadi tertular infeksi. Data surveilans HAIs di RS.Jantung Harapan Kita pada tahun 2013, IADP 5.5 ‰, ISK 1.7 ‰, VAP 14.5 ‰, ILO. 2,3.

HAIs dapat meningkatkan hari rawat yang lama, sehingga meningkatkan biaya, produktifitas pasien maupun Rumah Sakit akan menurun. Hal tersebut dapat menimbulkan kematian atau kecacatan bahkan dapat timbul tuntutan hukum, mutu dan citra pelayanan Kesehatan akan menurun. Banyak faktor penyebab terjadinya infeksi terkait pelayanan kesehatan antara lain, kurangnya pengetahuan, kurangnya fasilitas, kepatuhan terhadap standar prosedural buruk, kondisi pasien yang sangat kompleks, kurang kepeduliaan dari tenaga kesehatan.

Untuk menurunkan atau meminimalkan insiden rate HAIs ini maka dibuatlah suatu kebijakan dari Kemenkes. Kebijakan tersebut yaitu bahwa setiap Rumah Sakit dan Fasilitas Kesehatan lainnya harus melaksanakan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI). Namun sangat disayangkan saat ini masih banyak pihak manajemen Rumah Sakit yang kurang peduli dengan masalah ini. Sehingga pelaksanaan PPI hanya karena kebutuhan adanya akreditasi, yang seharusnya merupakan suatu standar yang harus dilaksanakan oleh Rumah Sakit dan Fasyankes lainnya.

Salah satu program dari Pencegahan dan Pengendalian Infeksi adalah Pendidikan dan Pelatihan yang diberikan kepada seluruh tenaga Kesehatan. Yaitu yang berada di fasilitas pelayanan Kesehatan tanpa kecuali, baik praktisi maupun managemen serta anggota Komite PPI.

Lebih lanjut terkait informasi PELATIHAN PPI DASAR KLIK DISINI

PPI DASAR

Pelatihan Vaksin, Pelatihan Vaksinasi, Pelatihan Vaksinator, Pelatihan Vaksinologi, Vaksinologi

Vaksinologi – Pelatihan Vaksinologi – Pelatihan Vaksin – Pelatihan Vaksinasi – Pelatihan Vaksinator

VAKSIN / VAKSINOLOGI

vaksinologi

Vaksin adalah zat atau senyawa yang berfungsi untuk membentuk kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit. Ada banyak jenis vaksin dan kandungannya pun berbeda-beda. Masing-masing vaksin tersebut dapat memberikan perlindungan dari penyakit tertentu yang berbahaya. Vaksin mengandung bakteri, racun, atau virus penyebab penyakit yang telah dilemahkan atau sudah dimatikan. Saat dimasukkan ke dalam tubuh seseorang, vaksin akan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi antibodi. Proses pembentukan antibodi inilah yang disebut imunisasi.

Saat orang yang sudah mendapatkan vaksin terpapar kuman penyebab penyakit yang sebenarnya di kemudian hari, tubuhnya akan membentuk antibodi dengan cepat untuk melawan kuman tersebut. Namun, reaksi ini terkadang bisa menimbulkan efek samping ringan, seperti demam, lemas, dan kurang nafsu makan. Oleh karena itu, diperlukan istirahat dan makan dan minum yang cukup setelah menjalani vaksinasi. Salah satu pilihan minuman yang sehat adalah air kelapa.

Pentingnya Vaksin untuk Mencegah Penyakit

vaksinologi

Setiap orang perlu mendapatkan vaksin, terutama bayi dan anak-anak, karena memiliki daya tahan tubuh yang masih lemah dan berkembang.

Namun, selain bayi dan anak-anak, orang dewasa juga perlu mendapatkan vaksin. Orang dewasa disarankan untuk mendapatkan vaksin, terlebih jika ia memiliki beberapa kondisi atau faktor risiko tertentu, seperti:

  • Berusia di atas 65 tahun
  • Menjalani masa kehamilan atau menyusui
  • Menderita penyakit kronis, seperti asma, diabetes, dan penyakit jantung
  • Memiliki daya tahan tubuh yang lemah, misalnya karena kemoterapi, riwayat operasi transplantasi organ, atau
  • menderita infeksi HIV
  • Belum mendapatkan imunisasi wajib sebelumnya
  • Bekerja di tempat yang berisiko tinggi tertular infeksi, seperti rumah sakit atau laboratorium klinik

Vaksin merupakan antigen (mikroorganisma) yang diinaktivasi atau dilemahkan yang bila diberikan kepada orang yang sehat untuk menimbulkan antibodi spesifik terhadap mikroorganisma tersebut, sehingga bila kemudian terpapar, akan kebal dan tidak terserang penyakit. Bahan dasar membuat vaksin tentu memerlukan mikroorganisma, baik virus maupun bakteri. Menumbuhkan mikroorganisma memerlukan media tumbuh yang disimpan pada suhu tertentuMikroorganisma yang tumbuh kemudian akan dipanen, diinaktivasi, dimurnikan, diformulasi dan kemudian dikemas.

Rangkaian proses pembuatan vaksin berada dibawah regulasi cara pembuatan obat yang baik (CPOB) yang juga dikenal sebagai Good Manufacturing Practice (GMP) sehingga produk akan terjaga dalam kualitas yang baik.

Setiap lot yang diproduksi harus lulus pengujian mutu (Quality Control), dan jaminan mutu (Quality Assurance). Setiap lot produk yang dihasilkan akan dilaporkan pada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk kemudian diperiksa dan bila sudah lulus, BPOM akan mengeluarkan sertifikat lulus uji untuk setiap lot vaksin. Dengan demikian dapat dilihat bagaimana setiap lot yang dihasilkan sangat terjaga kualitasnya.

Lebih lanjut terkait informasi PELATIHAN VAKSINOLOGI KLIK DISINI

Pelatihan Vaksinologi Pelatihan Vaksinologi Pelatihan Vaksinologi

Pelatihan PMKP, Pelatihan PMKP 2024, PMKP Akreditasi Klinik, PMKP Akreditasi Rumah Sakit, PMKP Klinik

PMKP Klinik – PMKP Akreditasi Klinik – PMKP Akreditasi Rumah Sakit – Pelatihan PMKP – Pelatihan PMKP 2024

Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) Klinik

Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) Klinik

Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) Klinik adalah serangkaian kegiatan yang sistematis dan terencana dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan klinis dan keselamatan pasien di klinik. PMKP Klinik bertujuan untuk:

  • Meningkatkan kualitas pelayanan klinis
  • Menurunkan risiko terjadinya kesalahan medis
  • Meningkatkan kepuasan pasien
  • Meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap klinik

Indikator PMKP

Training Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) Klinik

Indikator mutu pelayanan klinis adalah tolok ukur yang digunakan untuk menilai tingkat capaian target mutu pelayanan klinis. Indikator mutu pelayanan klinis dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

  • Indikator mutu klinis, yaitu indikator yang mengukur mutu pelayanan klinis, seperti angka kematian, angka infeksi, dan angka komplikasi.
  • Indikator keselamatan pasien, yaitu indikator yang mengukur keselamatan pasien, seperti angka kejadian kesalahan medis, angka kejadian jatuh, dan angka kejadian cedera pasien.

Klinik harus menetapkan indikator mutu pelayanan klinis yang sesuai dengan jenis pelayanan yang diberikan. Indikator mutu pelayanan klinis harus diukur secara rutin dan datanya harus dianalisis untuk mengetahui tingkat capaian target mutu. Tindakan perbaikan mutu pelayanan klinis harus dilakukan berdasarkan hasil analisis data.

Penerapan PMKP Klinik sangat penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan klinis dan keselamatan pasien. Klinik harus memiliki komitmen yang kuat untuk menerapkan PMKP Klinik secara berkelanjutan. Berikut adalah contoh kegiatan PMKP Klinik:

  • Menetapkan indikator mutu pelayanan klinis untuk setiap jenis pelayanan yang diberikan.
  • Mengumpulkan data mutu pelayanan klinis secara rutin.
  • Menganalisis data mutu pelayanan klinis untuk mengetahui tingkat capaian target mutu.
  • Melakukan tindakan perbaikan mutu pelayanan klinis berdasarkan hasil analisis data.
  • Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan PMKP.

Kegiatan PMKP Klinik dapat dilakukan oleh tim yang terdiri dari tenaga klinis, tenaga non-klinis, dan tenaga ahli.

Kaitan PMKP dengan Akreditasi

Akreditasi klinik adalah pengakuan formal terhadap suatu klinik yang menyatakan bahwa klinik tersebut telah memenuhi standar pelayanan yang ditetapkan oleh pemerintah. Penerapan PMKP Klinik merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan akreditasi klinik, hal ini dikarenakan merupakan bukti bahwa klinik berkomitmen untuk meningkatkan mutu pelayanan klinis dan keselamatan pasien.

Lebih lanjut terkait informasi PELATIHAN PMKP KLIK DISINI

PMKP KLINIK PMKP KLINIK PMKP KLINIK

Dokter Geriatri, Geriatri, Pelatihan Geriatri, Pelatihan Geriatri 2024, Pelatihan Perawat Geriatri

Geriatri – Dokter Geriatri – Pelatihan Geriatri – Pelatihan Perawat Geriatri – Pelatihan Geriatri 2024

Apa Itu Geriatri?

Pelatihan Geriatri

Dalam dunia medis, geriatri adalah cabang ilmu kedokteran yang berfokus pada penanganan, diagnosis, serta pencegahan penyakit dan gangguan kesehatan yang menyerang kalangan lansia. Geriatri berasal dari bahasa Yunani, geron yang berarti orang tua, dan teria yang artinya penanganan terhadap penyakit. Seperti yang diketahui bersama, saat seseorang memasuki usia senja, maka ia mengalami banyak masalah kesehatan.

Mereka akan mengalami beberapa masalah seperti menurunnya kualitas penglihatan, pendengaran, tubuh yang jadi mudah lelah, kehilangan ketajaman pikiran, bahkan penyakit diabetes dan jantung. Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia 2016 yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan, jumlah penduduk lansia di seluruh Indonesia mencapai sekitar 22,5 juta jiwa.

Faktanya, orang lanjut usia memiliki kebutuhan perawatan kesehatan khusus yang pasti berbeda dengan orang dewasa. Hal ini membuat perawatan medis mereka menjadi lebih rumit. Selain itu, orang lanjut usia biasanya memiliki masalah kesehatan yang lebih dari satu, seperti penyakit jantung, diabetes, radang sendi, penyakit Alzheimer, atau tekanan darah tinggi. Kondisi ini membuat perawatan untuk lansia menjadi rumit dan oleh karenanya dokter geriatri sangat dibutuhkan untuk menangani kondisi yang kompleks ini.

Salah satu tugas yang diemban oleh dokter geriatri adalah meresepkan obat yang tepat. Sebab meresepkan obat untuk lansia tidak bisa sembarangan dilakukan. Salah satu obat mungkin saja berguna mengobati satu masalah kesehatan, namun di sisi lain, ia bisa saja menyebabkan gangguan kesehatan lain yang lebih buruk. Selain itu, meresepkan terlalu banyak obat juga tidak baik karena menimbulkan efek samping, kemungkinan munculnya interaksi obat, atau membuat kinerja ginjal menjadi semakin berat.

Apa Saja Tugas Dokter Geriatri?

Pelatihan Geriatri

Dokter geriatri bertugas menjaga kesehatan lansia dengan cara mencegah timbulnya penyakit, sekaligus membantu mengatasi masalah kesehatan yang timbul. Umumnya, dokter geriatri akan dibantu oleh tim medis, termasuk perawat, ahli farmasi, ahli gizi, terapis, dan psikiater yang terlatih khusus untuk membantu lansia untuk tetap sehat.

Kondisi penyakit pada lansia menyebabkan gangguan pada daya ingat, kesulitan menahan buang air, tubuh semakin lemah, atau mengalami gangguan kesehatan akibat efek samping pengobatan. Oleh karena itu, lansia kerap kali mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas harian, termasuk makan, mandi, atau berganti pakaian.

Secara umum, geriatri akan mengelola perawatan lansia secara keseluruhan. Mereka juga bekerja sama dengan orang lain di tim perawatan kesehatan, seperti:

  • Anggota keluarga.
  • Pengasuh.
  • Dokter keluarga.
  • Perawat.
  • Apoteker.
  • Pekerja sosia.
  • Penyedia layanan berbasis komunitas.
  • Terapi fisik.
  • Terapis.

Dokter geriatri bersama tim medis lainnya umumnya memahami bahwa penanganan lansia perlu dilakukan secara menyeluruh. Mulai dari melakukan evaluasi penyakit yang pernah diidap hingga rencana perawatan yang tepat. Sehingga hal ini diperlukan kerjasama antara keluarga atau perawat khusus lansia.

Lebih lanjut terkait PELATIHAN GERIATRI KLIK DISINI

Pelatihan Geriatri Pelatihan Geriatri