Flebotomi, Flebotomi Adalah, Pelatihan Flebotomi, Pelatihan Flebotomi 2024, Pelatihan Phlebotomy, Pelatihan Phlebotomy 2024, Phlebotomy

Flebotomi – Phlebotomy – Flebotomi Adalah – Pelatihan Flebotomi – Pelatihan Flebotomi 2024 – Pelatihan Phlebotomy – Pelatihan Phlebotomy 2024

PHLEBOTOMY

Pelatihan Phlebotomy

PENGERTIAN FLEBOTOMI

Phlebotomy atau flebotomi adalah prosedur laboratorium yang dilakukan dengan mengeluarkan sejumlah darah. Jadi, flebotomi dilakukan dengan cara memasukkan jarum ke dalam pembuluh darah vena guna mengeluarkan sejumlah volume darah dari dalam tubuh. Proses ini sebenarnya bisa dilakukan pada bagian tubuh mana pun. Namun biasanya, prosedur ini dilakukan di area lipatan siku karena memiliki ukuran pembuluh darah vena yang cukup besar.

Phlebotomy atau pungsi vena adalah tindakan memasukkan jarum ke dalam vena yang umumnya dilakukan untuk mengambil darah yang akan dipakai dalam analisis hematologi, biokimia, atau mikrobiologi. Tindakan ini membutuhkan keterampilan dan keakuratan agar dapat memperoleh sampel darah yang berkualitas tanpa menimbulkan ketidaknyamanan pada pasien.

Pelatihan PHLEBOTOMY

TUJUAN FLEBOTOMI

Flebotomi dilakukan secara sengaja untuk mengeluarkan komponen darah yang bermasalah. Komponen tersebut bisa sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), plasma darah, trombosit (keping darah), atau zat besi sebagai pembentuk sel darah merah. Keputusan untuk mengeluarkan sejumlah komponen darah tersebut bukan tanpa alasan. Pasalnya, jika terus dibiarkan berada di dalam tubuh untuk waktu lama, komponen darah itu akan membawa dampak buruk yang mengancam kesehatan tubuh.

PENYAKIT YANG MEMBUTUHKAN TINDAKAN FLEBOTOMI

Phlebotomy

1. Polisitemia vera

Polisitemia vera adalah kondisi yang terjadi ketika terlalu banyaknya produksi sel darah merah, hematokrit, dan trombosit dari sumsum tulang belakang. Akibatnya, jumlah komponen penyusun darah, terutama sel darah merah, yang melebih batas normal tersebut akan membuat darah menjadi lebih kental. Itulah sebabnya nantinya laju aliran darah di dalam tubuh menjadi jauh lebih lambat. Prosedur flebotomi adalah salah satu tindakan yang setidaknya mampu mencegah perkembangan penyakit, sekaligus menurunkan jumlah produksi sel darah merah. Dikutip dari jurnal yang dipublikasikan Blood Transfusion, tindakan flebotomi dengan volume darah 25 ml dapat diberikan pada pasien polisitemia vera satu kali dalam dua bulan. Prosedur tersebut berguna untuk menurunkan kadar hematokrit.

2. Hemokromatosis

Hemokromatosis adalah suatu kondisi medis yang disebabkan oleh terlalu banyaknya penyerapan zat besi dari makanan sehari-hari. Zat besi dalam jumlah banyak ini kemudian disimpan di dalam organ tubuh, seperti jantung, hati, serta pankreas. Pengobatan dengan flebotomi diyakini dapat membantu mengurangi jumlah zat besi yang berlebihan, dengan cara mengeluarkan sejumlah sel darah merah dari dalam tubuh. Cara tersebut juga merangsang sumsum tulang belakang untuk menghasilkan sel darah merah baru dengan menggunakan zat besi yang disimpan oleh tubuh. Pasien hemokromatosis melakukan proses flebotomi sebanyak 450 ml darah yang mengandung sekitar 200-250 mg zat besi.

3. Porfiria

Porfiria adalah suatu kondisi langka yang terjadi karena proses pembentukan heme (komponen dari sel darah merah), terhambat karena tubuh kekurangan enzim tertentu. Normalnya, ada banyak enzim yang terlibat untuk mendukung proses pembentukan heme. Kekurangan salah satu enzim dapat mengakibatkan senyawa kimia menumpuk di dalam tubuh, yang dikenal sebagai porfirin. Itu sebabnya, gejala dari porfirin ini disebut porfiria, yang membuat kulit terbakar dan melepuh saat terkena sinar matahari. Pada kasus ini, prosedur flebotomi akan membantu mengeluarkan sejumlah sel darah merah dari tubuh. Dalam setiap sesi, petugas kesehatan akan mengeluarkan 450 ml darah.

4. Penyakit lain
  • Penyakit Alzheimer
    Prosedur flebotomi disebut dapat mengurangi zat besi tubuh yang mungkin dapat membuat penyakit Alzheimer bertambah parah. Namun, hal ini masih membutuhkan penelitian lanjutan untuk membuktikannya.
  • Gangguan metabolisme
    Gangguan metabolisme, seperti diabetes, mungkin dapat mengambil manfaat dari flebotomi. Pasalnya, pengurangan zat besi dalam proses flebotomi dapat memperbaiki tekanan darah, kadar glukosa, hingga kolesterol.
  • Anemia sel sabit
    Beberapa penelitian menyebutkan bahwa pelaksanaan prosedur flebotomi secara rutin dapat menurunkan tingkat keparahan penyakit anemia sel sabit. Efek tersebut muncul setelah tiga bulan memulai prosedur.

Lebih lanjut terkait informasi PELATIHAN PHLEBOTOMY/FLEBOTOMI KLIK DISINI

Pelatihan Phlebotomy

Central Sterile Supply Department, CSSD, Pelatihan CSSD, Pelatihan CSSD 2024, Pelatihan CSSD Online

Central Sterile Supply Department – CSSD – Pelatihan CSSD – Pelatihan CSSD 2024 – Pelatihan CSSD Online

Central Sterile Supply Department (CSSD)

Central Sterile Supply Department

Central Sterile Supply Department (CSSD) adalah sebuah unit yang bertanggung jawab atas pengelolaan, sterilisasi, dan distribusi peralatan medis dalam rumah sakit. Tugas utama CSSD adalah memastikan bahwa alat-alat medis yang digunakan untuk pasien benar-benar steril dan bebas dari mikroorganisme patogen.

Proses pencucian, sterilisasi, dan distribusi alat-alat medis sangat kritis dalam hal menjaga keamanan pasien di rumah sakit. Tanpa adanya CSSD yang berfungsi dengan baik, risiko terjadinya infeksi pada pasien akibat kontaminasi silang dari peralatan medis yang tidak steril akan meningkat. Oleh karena itu, CSSD sangat penting dalam memastikan bahwa segala perlengkapan medis dalam ruangan pasien telah benar-benar steril.

Di dalam CSSD, alat-alat medis yang telah terpakai dikumpulkan dan dibersihkan terlebih dahulu sebelum dibersihkan lebih lanjut dengan cara sterilisasi (menggunakan suhu dan tekanan tertentu, atau bahan kimia sterilisasi tertentu, seperti gas etilen oksida). Setelah proses sterilisasi selesai, alat-alat medis tersebut dikirim ke ruang operasi atau kamar pasien. Proses sterilisasi sendiri akan diawasi oleh teknisi CSSD yang telah berpengalaman dan terlatih untuk mengoperasikan mesin sterilisasi. Serta memastikan bahwa hasil sterilisasi telah memenuhi standar dan protokol yang berlaku.

Dalam ruang operasi atau kamar pasien, alat-alat medis tersebut akan kembali disterilkan dengan menggunakan metode tertentu sebelum digunakan kembali. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa alat medis yang digunakan benar-benar steril dan bebas dari risiko kontaminasi silang.

Peranan CSSD dalam Rumah Sakit

Central Sterile Supply Department

Konsep dan peranan Central Sterile Supply Department (CSSD) telah berkembang dari hanya suatu departemen di rumah sakit menjadi koordinator dari suatu sistem kerja supply dan alat alat steril. Hal ini dapat dianalogikan seperti satu unit autoclave untuk sterilisasi menjadi sistem infection control di rumah sakit. Secara ideal, CSSD adalah satu departemen yang independen dengan fasilitas untuk menerima,men desinfect, membersihkan, mengemas, men-steril, menyimpan dan mendistribusikan alat alat (baik yang dapat dipakai berulang kali dan alat sekali pakai), sesuai dengan standar prosedur. Beban kerja untuk CSSD berbeda antara rumah sakit satu dibandingkan dengan rumah sakit lainnya.

Dengan CSSD independent yang terpisah, kita dapat menghemat pengeluaran pembelian alat sterilisasi dengan memusatan alat-alat di satu departemen. Hal ini juga memastikan bahwa proses steril akan diawasi oleh staff khusus dan berjalan sesuai dengan standar prosedur operasi (SOP).

CSSD memerlukan kemampuan teknis khusus, hal ini dapat diartikan bahwa departemen ini mengontrol semua kegiatan dan manajemen aset.  Yang secara tidak langsung juga memengaruhi pembelian alat-alat operasi umum dan khusus serta inventaris lainnya. CSSD di satu rumah sakit mencerminkan satu layanan berkualitas yang langka. Bertambahnya jumlah penderita yang mengalami infeksi di rumah sakit (nosocomial infection), telah membuka mata akan pentingnya CSSD. Jika CSSD tidak ada, maka ada kemungkinan peningkatan terjadinya infeksi nosocomial. Kemungkinan terjadinya infeksi nosocomial yang menyebabkan peningkatan angka kematian, peningkatan jangka waktu rawat inap dan pengeluaran dapat diturunkan dengan membangun CSSD yang baik.

Salah satu faktor penting dalam menjalankan CSSD adalah sistem kerja yang baik. Untuk memiliki sistem kerja yang baik, proses sterilisasi membutuhkan fungsional dan kordinasi yang baik dari 3 area. Yaitu area kotor (soiled zone), yang juga dikenal sebagai area pencucian. Area bersih (clean zone) yang juga dikenal sebagai area assembly atau area packing. Dan area steril (sterile zone) yang juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan alat alat steril. Rumah sakit yang dibangun tanpa CSSD pada awalnya, akan mengalami kesulitan untuk design dan perencanaan di tahap selanjutnya untuk mengintegrasikan CSSD departemen.

Lebih lanjut terkait PELATIHAN CSSD KLIK DISINI

Central Sterile Supply Department Central Sterile Supply Department

Central Sterile Supply Department

Pelatihan Triase, Pelatihan Triase 2023, Pelatihan Triase 2024, Triase, Triase Adalah, Triase IGD, Triase Rumah Sakit

Triase – Triase Adalah – Triase IGD – Triase Rumah Sakit – Pelatihan Triase – Pelatihan Triase 2023 – Pelatihan Triase 2024

Ruang Triase

Apa itu Triase?

Triase adalah sistem yang digunakan pada IGD untuk menggolongkan tingkat kegawatan kondisi pasien untuk melakukan perawatan sehingga dapat merawat pasien sebanyak dan seefisien mungkin. Target dari penerapan sistem triase adalah untuk meminimalkan kematian di rumah sakit. Selain itu juga untuk mengurangi waktu, lama tinggal, dan sumber daya yang digunakan.

Kata triase berasal dari kata kerja Perancis (trier) yang berarti memilih atau menyortir. Triase pertama kali dikembangkan pada abad ke-18 oleh Baron Dominique Jean Larrey, Kepala Ahli Bedah Pengawal Kekaisaran Napoleon. Larrey menetapkan aturan yang jelas untuk menyortir pasien untuk pengobatan yang memperlakukan mereka yang terluka parah terlebih dahulu tanpa memperhatikan pangkat atau perbedaan maka mereka yang terluka dalam derajat yang lebih rendah dapat menunggu terlebih dahulu.

Kategori Triase IGD

KENALI TRIASE KEGAWATDARURAT YANG ADA DI IGD

Ada 4 kategori warna dalam sistem triase IGD dan setiap warna memiliki arti masing-masing yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Berikut ini adalah penjelasan dari keempat kategori warna tersebut:

1. Merah

Warna merah dalam triase IGD menunjukkan pasien pioritas pertama yang berada dalam kondisi kritis (mengancam nyawa) sehingga memerlukan pertolongan medis sesegera mungkin. Jika tidak diberikan penanganan dengan cepat, kemungkinan besar pasien akan meninggal. Contoh dalam hal ini adalah pasien yang kesulitan bernapas, terkena serangan jantung, menderita trauma kepala serius akibat kecelakaan lalu lintas, dan mengalami perdarahan luar yang besar.

2. Kuning

Warna kuning menandakan pasien pioritas kedua yang memerlukan perawatan segera, tetapi penanganan medis masih dapat ditunda beberapa saat karena pasien dalam kondisi stabil. Meski kondisinya tidak kritis, pasien dengan kode warna kuning masih memerlukan penanganan medis yang cepat. Pasalnya, kondisi pasien tetap bisa memburuk dengan cepat dan berisiko menimbulkan kecacatan atau kerusakan organ. Pasien yang termasuk kategori kode warna kuning contohnya adalah pasien dengan patah tulang di beberapa tempat akibat jatuh dari ketinggian, luka bakar derajat tinggi, dan trauma kepala ringan.

3. Hijau

Warna hijau menunjukkan pasien prioritas ketiga yang memerlukan perawatan di rumah sakit, tetapi masih dapat ditunda lebih lama (maksimal 30 menit). Ketika tenaga medis telah menangani pasien lain yang kondisinya lebih darurat (kategori warna merah dan kuning), maka mereka akan langsung melakukan pertolongan pada pasien pioritas ketiga. Pasien yang cedera tetapi masih sadar dan bisa berjalan biasanya termasuk dalam kategori triase gawat darurat ini. Contoh lain dalam kategori adalah pasien dengan patah tulang ringan, luka bakar derajat rendah, atau luka ringan.

4. Putih

Pasien yang mengalami cedera minimal yang tidak memerlukan penanganan medis secara khusus atau hanya membutuhkan obat-obatan masuk ke dalam kategori putih. Pada kondisi ini gejala bisanya tidak berisiko bertambah parah jika pengobatan tidak segera diberikan.

5. Hitam

Kode warna hitam menandakan pasien berada dalam kondisi yang sangat kritis, tetapi sulit untuk diselamatkan nyawanya. Sekalipun segera ditangani, pasien tetap akan meninggal. Kondisi ini biasanya terjadi pada pasien yang mengalami cedera parah yang bisa menyulitkan pernapasan atau kehilangan banyak darah akibat luka tembak.

Lebih lanjut terkait PELATIHAN TRIASE KLIK DISINI

Contraceptive Technology Update, CTU, PELATIHAN CTU, Pelatihan CTU 2024, Pelatihan Ctu Bidan

Contraceptive Technology Update – CTU – Pelatihan CTU – Pelatihan CTU Bidan – Pelatihan CTU 2024

CONTRACEPTIVE TECHNOLOGY UPDATE

contraceptive technology update

Teknologi Kontrasepsi Terkini (TKT) atau Contraceptive Technology Update (CTU) merupakan suatu upaya untuk pemutakhiran informasi dan teknologi kontraspesi. TKT merupakan suatu teknologi tepat guna dan sesuai untuk institusi pelayanan dengan sumberdaya terbatas, dilaksanakan oleh tenaga berkompeten, dan memberi manfaat maksimal bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan kontrasepsi berkualitas. Pemberi pelayanan KB sebagian besar adalah para Bidan, anggota Ikatan Bidan Indonesia (IBI) diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan reproduksi terstandar. Selain tugas pokok dan fungsi dalam menolong persalinan, bidan juga diharapkan dapat mendorong pencapaian Peserta Aktif dan Peserta KB Baru melalui kontrasepsi jangka panjang.

Apa Itu Alat Kontrasepsi?

Alat kontrasepsi umumnya bisa kamu gunakan untuk pencegahan kehamilan yang tidak kamu inginkan atau tidak memungkinkan, misalnya saat kondisi tubuh wanita tidak memungkinkan untuk hamil. Secara umum, kehamilan bisa terjadi saat ada pertemuan antara sperma dari pria dengan sel telur yang ada di rahim wanita. Alat kontrasepsi pun bisa mencegah hal tersebut. Penggunaan alat ini juga bertujuan untuk menghentikan produksi sel telur serta menghentikan penggabungan sel sperma dan sel telur yang telah dibuahi menempel pada lapisan rahim. Selain itu, ada juga jenis kontrasepsi yang juga bermanfaat untuk mencegah penularan penyakit seksual, contohnya kondom.

Kapan Alat Kontrasepsi Digunakan?

Secara umum, alat ini bisa kamu gunakan untuk mencegah kehamilan atau mencegah penularan penyakit seksual. Alat ini perlu kamu gunakan sebelum hubungan intim dengan pasangan. Ada macam-macam kb yang tersedia, sehingga cara penggunaannya pun akan berbeda-beda pula. Selain cara penggunaan yang berbeda, jenis alat ini juga umumnya memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing.

Jenis-jenis Alat Kontrasepsi

contraceptive technology update

  1. Kontrasepsi alami
  2. Pil KB
  3. Kondom pria
  4. Suntik
  5. Implan
  6. IUD
  7. Kondom Wanita
  8. Vaginal Ring
  9. Sterilisasi
  10. Spermisida
  11. Diafragma
  12. Cervical cap
  13. Koyo Ortho Evra

Manfaat Menggunakan Alat Kontrasepsi

Alat kontrasepsi memiliki banyak manfaat bagi wanita yang ingin mencegah kehamilan yang tidak mereka inginkan. Namun, khusus alat kontrasepsi hormonal, seperti pil KB, implan, dan IUD, memberikan manfaat lain di luar pencegahan kehamilan, di antaranya:

  • Mengatur siklus menstruasi
  • Mengurangi rasa sakit menstruasi
  • Mencegah jerawat hormonal
  • Mengurangi risiko kanker rahim
  • Mengurangi risiko kista ovarium
  • Mengelola endometriosis
  • Mengurangi risiko anemia

Lebih lanjut terkait informasi PELATIHAN CONTRACEPTIVE TECHNOLOGY UPDATE (CTU) KLIK DISINI

Gizi Klinik, Gizi Rumah Sakit, Pelatihan Gizi 2024, Pelatihan Gizi Klinik, Pelatihan Gizi Rumah Sakit

Gizi Rumah Sakit – Gizi Klinik – Pelatihan Gizi Rumah Sakit – Pelatihan Gizi Klinik – Pelatihan Gizi 2024

PELAYANAN DAN ASUHAN GIZI

Gizi Rumah Sakit

Pelayanan gizi rumah sakit adalah pelayanan gizi yang disesuaikan dengan keadaan pasien dan berdasarkan keadaan klinis, status gizi, dan status metabolisme tubuhnya. Keadaan gizi pasien sangat berpengaruh pada proses penyembuhan penyakit, sebaliknya proses perjalanan penyakit dapat berpengaruh terhadap keadaan gizi pasien.

Ruang Lingkup Pelayanan Gizi Rumah Sakit

Pelayanan gizi rumah sakit merupakan salah satu pelayanan penunjang medik dalam pelayanan kesehatan paripurna rumah sakit yang terintegrasi dengan kegiatan Iainnya, mempunyai peranan penting dalam mempercepat pencapaian tingkat kesehatan baik bersifat promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif. Kegiatan pokok pelayanan gizi di rumah sakit meliputi pengadaan dan pengolahan/produksi makanan, pelayanan gizi diruang Rawat Inap, pelayanan gizi rawat jalan/konsultasi dan penyuluhan gizi serta penelitian dan pengembangan bidang terapan.

Sasaran Pelayanan Gizi Rumah Sakit

Sasaran penyelenggaraan makanan dirumah sakit adalah pasien. Sesuai dengan kondisi Rumah Sakit dapat juga dilakukan penyelenggaraan bagi pengunjung (pasien rawat jalan atau keluarga pasien). Pemberian makanan yang memenuhi gizi seimbang serta habis termakan merupakan salah satu cara untuk mempercepat penyembuhan dan memperpendek hari rawat inap.

Aktifitas Pelayanan Gizi

Aktifitas yang dikembangkan dalam Pelayanan Gizi di Rumah Sakit adalah; antara lain :

  1. Edukasi dan Konseling Gizi.
  2. Skrining Gizi Pasien.
  3. Intervensi Gizi.
  4. Proses Asuhan Gizi Terstandard (PAGT).
  5. Monitoring dan Evaluasi Gizi

Gizi Rumah Sakit

Integrasi Sistem Pelayanan Gizi RS

Dalam penyelenggaraan pelayanan gizi dilakukan koordinasi dan komunikasi antar disiplin ilmu untuk memberikan asuhan yang terbaik bagi pasien. Sebagai bagian dari tim pelayanan kesehatan, ahli gizi harus berkolaborasi dengan dokter, perawat, farmasi dan tenaga kesehatan Iainnya yang terkait dalam memberikan pelayanan asuhan gizi.

Penyelenggaraan makanan rumah sakit merupakan bagian tak terpisahkan dari pelayanan gizi rumah sakit; ini adalah rangkaian kegiatan mulai dari perencanaan menu sampai dengan pendistribusian makanan kepada konsumen dalam rangka pencapaian status kesehatan yang optimal melalui pemberian diet yang tepat, dalam hal ini termasuk kegiatan pencatatan, pelaporan dan evaluasi. Dalam penyelenggaraan makanan pengawasan dilakukan dengan melibatkan PPI (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi) dan K3RS untuk memastikan bahwa penyelenggaranan makanan dilakukan dengan baik dan sesuai standar serta makan tidak tercemar dan aman dikonsumsi.

Standar Baku Mutu dan Persyaratan Kesehatan Pangan Siap Saji

Pangan siap saji di rumah sakit adalah semua makanan dan minuman yang disajikan dari dapur rumah sakit. Lalu diberikan untuk pasien dan karyawan, serta makanan dan minuman yang dijual di dalam lingkungan rumah sakit. Pengelolaan pangan siap saji di rumah sakit merupakan pengelolaan jasaboga golongan B. Jasa boga golongan B adalah jasa boga yang melayani kebutuhan khusus untuk rumah sakit, asrama jemaah haji, asrama transito, pengeboran lepas pantai, perusahaan serta angkutan umum dalam negeri dengan pengolahan yang menggunakan dapur khusus dan mempekerjakan tenaga kerja.

Standar baku mutu dan persyaratan kesehatan untuk pangan siap saji sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri Kesehatan. Yaitu yang mengatur mengenai standar baku mutu dan persyaratan kesehatan untuk pangan siap saji. Selain itu, rumah makan/restoran dan kantin yang berada di dalam lingkungan rumah sakit harus mengikuti ketentuan mengenai standar baku mutu dan persyaratan kesehatan untuk pangan siap saji.

Lebih lanjut terkait PELATIHAN GIZI KLINIK/RUMAH SAKIT KLIK DISINI

Foto Bersama Pelatihan Gizi Rumah Sakit

Komite Keperawatan, Komite Keperawatan Rumah Sakit, Pelatihan Komite Keperawatan, Pelatihan Komite Keperawatan 2023, Pelatihan Komite Keperawatan 2024

Komite Keperawatan – Komite Keperawatan Rumah Sakit – Pelatihan Komite Keperawatan – Pelatihan Komite Keperawatan 2023 – Pelatihan Komite Keperawatan 2024

Komite Keperawatan adalah wadah non-struktural rumah sakit yang mempunyai fungsi utama mempertahankan dan meningkatkan profesionalisme tenaga keperawatan melalui mekanisme kredensial, penjagaan mutu profesi, dan pemeliharaan etika dan disiplin profesi. Penyelenggaraan Komite Keperawatan bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme tenaga keperawatan serta mengatur tata kelola klinis yang baik agar mutu pelayanan keperawatan dan pelayanan kebidanan yang berorientasi pada keselamatan pasien di Rumah Sakit lebih terjamin dan terlindungi.

Rumah Sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan yang didalamnya terdapat berbagai jenis tenaga kerja yang bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Dokter, Perawat, Apoteker, Ahli gizi dan Radiografer merupakan beberapa contoh profesi yang tergabung dalam rumah sakit, disamping profesi-profesi lain yang ada dalam Istitusi tersebut.

Dengan banyaknya tenaga kerja yang ada di sebuah rumah sakit, diperlukan suatu wadah yang dapat mengontrol profesionalisme kerja setiap jenis profesi yang ada. Sehingga masyarakat sebagai penerima layanan dan profesional pemberi layananpun terjamin keselamatannya. Salah satu wadah yang dapat mendukung terwujudnya pelayanan yang berkualitas di rumah sakit ialah Komite.

Tugas Pokok dan Fungsi

Komite Keperawatan mempunyai fungsi meningkatkan profesionalsme tenaga keperawatan yang bekerja di Rumah Sakit dengan cara:

  1. Melakukan Kredensial bagi seluruh tenaga keperawatan yang akan melakukan pelayanan keperawatan dan kebidanan di Rumah sakit;
  2. Memelihara mutu profesi tenaga keperawatan; dan
  3. Menjaga disiplin, etika, dan perilaku profesi perawat dan bidan.

Dalam melaksanakan fungsi Kredensial, Komite Keperawatan memiliki tugas sebagai berikut:

  1. Menyusun daftar rincian Kewenangan Klinis dan Buku Putih;
  2. Melakukan verifikasi persyaratan Kredensial;
  3. Merekomendasikan Kewenangan Klinis tenaga keperawatan;
  4. Merekomendasikan pemulihan Kewenangan Klinis;
  5. Melakukan Kredensial ulang secara berkala sesuai waktu yang ditetapkan;
  6. Melaporkan seluruh proses Kredensial kepada Ketua Komite Keperawatan untuk diteruskan kepada kepala/direktur Rumah Sakit;

Dalam melaksanakan fungsi memelihara mutu profesi, Komite Keperawatan memiliki tugas sebagai berikut:

  1. Menyusun data dasar profil tenaga keperawatan sesuai area praktik;
  2. Merekomendasikan perencanaan pengembangan profesional berkelanjutan tenaga keperawatan;
  3. Melakukan audit keperawatan dan kebidanan; dan
  4. Memfasilitasi proses pendampingan sesuai kebutuhan.

Dalam melaksanakan fungsi menjaga disiplin dan etika profesi tenaga keperawatan, Komite Keperawatan memiliki tugas sebagai berikut:

  1. Melakukan sosialisasu kode etik profesi tenaga keperawatan;
  2. Melakukan pembinaan etik dan disiplin profesi tenaga keperawatan;
  3. Merekomendasikan penyelesaian masalah pelanggaran disiplin dan masalah etik dalam kehidupan profesi dan pelayanan asuhan keperawatan dan kebidanan;
  4. Merekomendasikan pencabutan Kewenangan Klinis; dan
  5. Memberikan pertimbangan dalam mengambil keputusan etis dalam asuhan keperawatan dan kebidanan.

Lebih lanjut terkait informasi PELATIHAN KOMITE KEPERAWATAN KLIK DISINI

Pelatihan Komite Keperawatan Pelatihan Komite Keperawatan

Hypnobirthing, Hypnobirthing Adalah, Pelatihan Hypnobirthing, Pelatihan Hypnobirthing Untuk Bidan, Training Hypnobirthing

Hypnobirthing – Hypnobirthing Adalah – Pelatihan Hypnobirthing – Pelatihan Hypnobirthing Untuk Bidan – Training Hypnobirthing

HYPNOBIRTHING

 hypnobirthing

Hypnobirthing adalah bagian dari metode self-hypnosis (hipnotis diri sendiri) dan teknik relaksasi untuk memudahkan calon ibu melahirkan dengan cara mengurangi persepsi akan rasa takut, cemas, tegang, serta rasa sakit saat melahirkan. Berdasarkan penelitian, penggunaan hipnosis selama persalinan dinilai efektif membantu ibu mengatasi ketakutan. Ketika takut, otot-otot menjadi tegang dan membuat proses kontraksi dan melahirkan secara alami pun menjadi terganggu.

PENGERTIAN HYPNOBIRTHING

Berasal dari kata Yunani, Hypnos yang berarti tidur/pikiran tenang. Birthing adalah proses kehamilan sampai melahirkan. Pertama kali dikembangkan oleh Marie Mongan sejak tahun 1959. Hypnobirthing adalah upaya alami menanamkan niat kepikiran bawah sadar untuk menghadapi persalinan dengan tenang dan sabar (www.hypno-birthing.web.id).

Menurut Lanny Kuswandi, terapis Pro V Clinic (Holistic Health Care) hypnobirthing adalah relaksasi dengan penambahan sugesti melalui usapan. Tangan menjadi sarana untuk mengusap daerah bawah payudara hingga perut. Bahkan cara ini telah dilakukan oleh para ibu hamil ketika bayinya meronta dalam kandungan. Untuk menenangkan sang bayi, biasanya ibu akan mengusap perutnya diiringi dengan membisikan kalimat-kalimat lembut. Niat positif untuk ibu hamil adalah bayi tumbuh sehat jasmani dan rohani sampai kehamilan 9 bulan menghadapi proses persalinan dengan alami, nyaman dan lancar. (www.hypno-birthing.web.id).

Hypnobirthing melatih ibu menenangkan pikirannya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kalau senam hamil fokusnya ke body and soul. Hypnobirthing justru lebih fokus pada mind and soul-nya. Tapi sebenarnya antara senam hamil dan hypnobirthing saling menunjang.

hypnobirthing

WAKTU PELAKSANAAN HYPNOBIRTHING

Hypnobirthing bisa dilakukan di usia kehamilan berapa pun. Namun, umumnya dilakukan di usia kehamilan 7 bulan atau 2 minggu sebelum proses persalinan. Bisa dilakukan dua kali sehari di saat pagi maupun menjelang tidur malam, lamanya sekitar 10-15 menit. Tempatnya bergantung keinginan masing-masing dan sebaiknya dilakukan berpasangan dengan sang suami agar tercipta hubungan spiritual bersama (www.bundaathira.multiply.com).

Menurut Tubagus Erwin Kusuma, ahli kesehatan jiwa, kepribadian seseorang terbentuk sejak sejak masih dalam kandungan. Stres yang dialami orang dewasa sebetulnya merupakan rekaman getaran kehidupan mereka sejak dalam kandungan. Begitu pula saat hamil, faktor kecemasan sang ibu bisa membuat persalinan yang seharusnya lancar menjadi terhambat. Dengan metode Hypnobirthing ini, ibu hamil dilatih rutin melakukan relaksasi agar mereka tenang dan selalu berpikiran positi selama hamil dan ketika melahirkan (www.pro-vclinic.web.id).

MANFAAT HYPNOBIRTHING

Tujuan hypnobirthing bukan hanya melahirkan tanpa rasa sakit, tapi yang utama adalah bayi dalam kandungan.

Manfaat dari hypnobirthing, yaitu :

  1. Meningkatkan kadar endorphin dalam tubuh untuk mengurangi rasa nyeri pada saat kontraksi
  2. Endorphin adalah neuropeptide yang dihasilkan tubuh pada saat relaks/tenang
  3. Pada saat stres endorphin terhalang oleh kortisol
  4. Endorphin dihasilkan di otak dan susunan syaraf tulang belakang
  5. Kondisi tenang dan damai selama hamil akan dirasakan oleh janin di dalam kandungan dan membentuk SQ (nilai kedamaian diri)
  6. Meningkatkan ikatan batin
  7. Mengurangi rasa mual, muntah, pusing dll
  8. Menciptakan keadaan yang seimbang sehingga pertumbuhan fisik dan jiwa bayi lebih sehat
  9. Mencegah post-partum depression
  10. Meningkatkan produksi ASI

LANGKAH-LANGKAH HYPNOBIRTHING

Langkah-langkah Hypnobirthing, yaitu :

Kepala dimiringkan di atas bahu kanan kemudian diputar sampai di atas bahu kiri, kembali ke bahu kanan sampai delapan kali hitungan. Setelah itu jari kanan di atas bahu diputar ke belakang sebanyak delapan kali. Lalu tangan tetap di atas bahu diputar ke depan sebanyak delapan kali pula.

Relaksasi otot. Berbaring santai, lengan disamping kanan dan kiri, telapak kanan menghadap atas. Lalu tegangkan telapak kaki hingga merambat ke betis, paha, pinggul dan dada. Pundak ditarik ke atas dan kedua telapak tangan dikepal kuat. Dahi dikerutkan, lidah ditarik ke arah langit-langit.

Relaksasi pernapasan. Dalam keadaan berbaring, otomatis napas akan terdorong ke arah perut. Tarik napas panjang melalui hidung sambil hitung sampai 10 kali. Kemudian hembuskan napas perlahan-lahan lewat mulut, lakukan 10 kali juga.

Relaksasi pikiran. Langkah ini diwakili indra mata. Setelah mata terpejam sejenak, buka mata pelan-pelan sambil memandang satu titik tepat di atas mata. Makin lama kelopak mata makin rileks, berkedip. Pada hitungan kelima mata akan menutup.

hypnobirthing

Pada saat ketiga unsur jiwa (perasaan, kemauan dan pikiran) dan raga istirahat, masukkan program positif yang akan terekam dalam alam bawah sadar. Contoh program positif; ‘Saya dan janin di dalam kandungan akan tumbuh sehat. Dan pada saat persalinan akan menghadapinya dengan tenang’(www.hypno-birthing.web.id)

Lebih lanjut terkait informasi PELATIHAN HYPNOBIRTHING KLIK DISINI

Pelatihan Poned, PONED Puskesmas, PONED Puskesmas Adalah, Puskesmas PONED, Puskesmas PONED Adalah

Puskesmas PONED – Puskesmas PONED Adalah – PONED Puskesmas – PONED Puskesmas Adalah – Pelatihan PONED

Pembangunan Nasional dimulai dari keluarga. Salah satunya melalui program peningkatan status kesehatan masyarakat seperti program pemerintah terkait Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) dan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) untuk mencapai target Millennium Development Goals (MDGs). Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih cukup tinggi dibandingkan dengan Negara ASEAN lainnya, bahkan penurunannya terhitung relatif lambat. Keberadaan PONEK dan PONED sangat membantu menurunkan AKI yang disebabkan oleh perdarahan, infeksi, dan juga eklamsia. Hal tersebut harus didukung oleh petugas kesehatan serta sarana dan rasarana yang memadai dalam pelaksanaannya untuk saling mendukung pelayanan ibu dan bayi sebaik mungkin.

PONED

Layanan PONED adalah fasilitas kesehatan yang disediakan oleh Puskesmas rawat inap terkait kasus emergensi obstetri dan neonatus tingkat dasar. Puskemas PONED melayani selama 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu. Puskesmas PONED biasa dijadikan rujukan untuk kasus-kasus rujukan masyarakat yang datang mandiri ataupun dirujuk oleh Posyandu, pelayanan perorangan tingkat pertama seperti praktik dokter atau bidan mandiri, dan rujukan dari puskesmas Non-PONED sekitar.

Berikut ini adalah kasus-kasus di puskesmas PONED yang harus dirujuk ke rumah sakit PONEK maupun non PONEK:

  1. Ibu hamil dengan panggul sempit, ibu hamil dengan riwayat bedah sesar, dan ibu hamil dengan perdarahan antepartum;
  2. Jika ditemukan adanya hipertensi dalam kehamilan (preeklamsi berat/ eklamsi);
  3. Ketuban pecah disertai dengan keluarnya meconium kental;
  4. Ibu hamil dengan tinggi fundus 40 cm atau lebih (makrosomia, polihidramnion, kehamilan ganda);
  5. Primipara pada fase aktif kala 1 persalinan dengan penurunan kepala 5/5 h;
  6. Ibu hamil dengan anemia berat atau ibu hamil yang mengalami disproporsi kepala panggul; dan
  7. Ibu hamil dengan komorbid atau penyakit penyerta seperti diabetes melitus (DM) dan kelainan jantung yang perlu dirujuk ke RS PONEK.

Selain pada kasus ibu hamil, kasus pada bayi baru lahir berikut juga harus segera dirujuk ke rumah sakit PONEK seperti:

  1. Bayi dengan usia gestasi di bawah 32 minggu;
  2. Bayi yang mengalami asfiksia ringan dan sedang yang tidak menunjukkan perbaikan selama 6 jam;
  3. Bayi yang mengalami kejang meningitis, dan bayi yang membutuhkan perawatan sepsis.
  4. Bayi yang diduga mengalami infeksi pra/ intra/ post partum;
  5. Bayi dengan kelainan bawaaan;
  6. Bayi dengan distres nafas yang menetap;
  7. Bayi yang tidak menunjukan kemajuan selama perawatan;
  8. Bayi yang mengalami kelainan jantung;
  9. Bayi hiperbilirubinemia; dan
  10. Bayi kuning akibat kadar bilirubin yang tinggi, lebih dari 10 mg/dl.

Kriteria yang Harus Dipenuhi untuk Puskesmas PONED

Untuk disebut dan difungsikan sebagai puskesmas PONED, puskesmas tersebut memenuhi syarat dan kriteria berikut:

  1. Memiliki ruangan perawatan kebidanan dan kandungan, ruang obstetri, ruang tindakan neonatus, ruang perawatan pasca persalinan, ruang jaga perawat dan dokter, dan ruang bedah minor.
  2. Menyediakan fasilitas ruangan pra-persalinan, kamar bersalin dan tempat tidur rawat inap untuk kasus emergensi/ komplikasi obstetri dan neonatus.
  3. Menyediakan tim pendukung yang sudah terlatih PONED minimal terdiri dari 1-2 orang dokter umum, 5 orang perawat D3, 5 orang bidan D3, 1 orang analis laboratorium, dan 1 orang petugas administrasi.
  4. Terletak di wilayah strategis dan mudah diakses oleh puskesmas atau fasyankes non-PONED lainnya. Jarak tempuh dari pemukiman atau puskesmas non-PONED ke puskesmas PONED <1 jam dengan transportasi umum, dan jarak dari puskesmas PONED ke rumah sakit minimal 2 ja
  5. Berfungsi dalam Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) dan menyelenggarakan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM).
  6. Memiliki peralatan medis, non-medis, obat-obatan, dan fasilitas tindakan medis serta rawat inap untuk mendukung penyelenggaraan PONED
  7. Puskesmas memiliki komitmen untuk menerima kasus rujukan kegawatdaruratan medis obstetri dan neonatus dari fasyankes sekitar
  8. Memiliki sarana rujukan berupa ambulance yang siap setiap saat.

Lebih lanjut terkait PELATIHAN PONED KLIK DISINI

Pelatihan Puskesmas PONED Pelatihan Puskesmas PONED Pelatihan Puskesmas PONED Pelatihan Puskesmas PONED

Manajemen keperawatan, Pelatihan Manajemen Keperawatan, Pelatihan Manajemen Keperawatan 2023, Pelatihan Manajemen Keperawatan 2024, Training Manajemen Keperawatan

Manajemen Keperawatan – Training Manajemen Keperawatan – Pelatihan Manajemen Keperawatan – Pelatihan Manajemen Keperawatan 2023 – Pelatihan Manajemen Keperawatan 2024

Manajemen Keperawatan, Pengertian dan Penjelasannya

Manajemen keperawatan akan melibatkan pengambilan keputusan. Salah satunya situasi permasalahan yang terjadi di dalam pengelolaan kegiatan keperawatan yang memerlukan pengambilan keputusan di berbargai tingkat manajerial. Manajemen berasal dari kata to manage yang memiliki arti mengelola, mengatur, serta mengurus dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi tersebut artinya bahwa seorang pemimpin atau manager bertugas dalam mengatur serta mengarahkan pekerja untuk mencapai tujuan bersama (organisasi). Setiap bidang usaha atau perusahaan memiliki manajemen di setiap organisasi tersebut. Salah satunya  adalah keperawatan.

Apa Itu Manajemen Keperawatan?

Manajemen keperawatan ialah suatu bentuk koordinasi dan integrasi sumber-sumber keperawatan dengan menerapkan proses manajemen untuk mencapai tujuan dan juga obyektifitas asuhan keperawatan serta pelayanan keperawatan. Selain itu, pengelola keperawatan juga dapat didefinisikan sebagai suatu proses dari perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan juga pengawasan dalam mencapai suatu tujuan. Tidak hanya itu, Pengelola juru rawat juga memahami serta memfasilitasi pekerjaan perawat pelaksana serta mengelola kegiatan keperawatan.

Prinsip-Prinsip Manajemen Keperawatan

Seorang manajer juru rawat melaksanakan manajemen dalam keperawatannya untuk memberikan perawatan kepada pasien. Ada beberapa prinsip-prinsip, sebagai berikut :

  • Sebagai perencanaan
  • Sebagai penggunaan waktu yang efektif
  • Sebagai pembuatan keputusan
  • Pemenuhan kebutuhan asuhan keperawatan pasien adalah urusan manajer perawat
  • Sebagai suatu perumusan dan pencapaian tujuan sosial
  • Sebagai pengorganisasian
  • Sebagai suatu fungsi, posisi atau tingkat sosial, disiplin serta bidang studi
  • Sebagai bagian aktif dari divisi keperawatan, lembaga dan lembaga dimana organisasi itu berfungsi
  • Budaya organisasi mencerminkan nilai-nilai kepercayaan
  • Untuk mengarahkan dan memimpin
  • Untuk memotivasi
  • Sebagai komunikasi yang efektif
  • Sebagai pengendalian atau pengevaluasian

Fungsi Manajemen Keperawatan

Manajemen memerlukan peran orang yang terlibat di dalamnya untuk menyikapi posisi masing-masing sehingga diperlukan fungsi-fungsi yang jelas mengenai manajemen. Berikut ialah beberapa fungsi menejemen dalam keperawatan :

  1. Perencanaan
    Perencanaan merupakan fungsi yang mendasar dari manajemen keperawatan. Perencanaan ialah kondisi dan integrasi sumber daya dalam keperawatan dengan menerapkan suatu tahap manajemen untuk mencapai asuhan keperawatan dan tujuan layanan keperawatan. Artinya dalam perencanaan keperawatan ini membantu untuk menjamin bahwa pasien akan menerima pelayanan keperawatan yang mereka inginkan.
  2. Pengorganisasian
    Pengorganisasian dilakukan setelah langkah perencanaan. Pengorganisasian menjadi langkah selanjutnya dalam menetapkan tugas dan wewenang serta pendelegasian wewenang oleh pimpinan kepada staf dalam rangka mencapai tujuan. Perawat harus memiliki lebih banyak pengawasan untuk menghindari terjadinya kesalahan. Kepala ruangan harus lebih banyak mengkoordinasikan staf atau perawatnya.
  3. Ketenagaan
    Ketenagaan artinya pengatur staf dan penjadwalan yang merupakan komponen utama dalam mengelola keperawatan. Manager harus merencakan ketenagaan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan asupan pasien. Upaya tersebut harus dilakukan untuk menghindari kekurangan dan kelebihan personalia saat ada fluktuasi jumlah dan akuitas pasien.
  4. Pengarahan
    Pengarahan ialah langkah kerja seorang manajer, dimana manajer berusaha memotivasi, membina komunikasi, menangani konflik, kerja sama dan bernegosiasi. Nah, pada pengarahan yang efektif akan meningkatkan dukungan para juru rawat untuk mencapai tujuan manajemen keperawatan dan tujuan asuhan keperawatan.
  5. Pengendalian
    Tahap pengendalian merupakan fungsi yang terus menerus berjalan dari manajemen yang terjadi selama perencanaan, pengorganisasian, ketenagaan, pengarahan. Selama fase pengendalian, kinerja diukur menggunakan standar yang telah ditentukan dan tindakan yang diambil untuk mengoreksi ketidak cocokkan antar standar dan kinerja.

Lebih lanjut terkait PELATIHAN MANAJEMEN KEPERAWATAN KLIK DISINI

Pelatihan Manajemen Keperawatan

Early Warning System, EWS, Pelatihan EWS, Pelatihan EWS 2023, Pelatihan EWS 2024

EWS – Early Warning System – Pelatihan EWS – Pelatihan EWS 2023 – Pelatihan EWS 2024

EARLY WARNING SYSTEM (EWS)

EWS Code Blue

Early Warning System (EWS) atau system peringatan dini adalah sistem deteksi yang digunakan oleh tim perawatan rumah sakit untuk mengenali tanda-tanda awal perburukan klinis untuk memulai intervensi dan manajemen dini, seperti meningkatkan perhatian keperawatan, menginformasikan dokter, atau mengaktifkan respon cepat atau tim darurat medis. Sistem ini melibatkan penetapan nilai numerik untuk beberapa parameter fisiologis untuk mendapatkan skor gabungan. Misalnya, tekanan darah sistolik, denyut jantung, saturasi oksigen, laju pernapasan, tingkat kesadaran, dan produksi urin.  Skor gabungan tersebut digunakan untuk mengidentifikasi pasien yang berisiko mengalami perburukan. Penilaian EWS menggunakan skor lalu dari skor tersebut kita dapat menentukan untuk pengawasan dan penanganan yang diperlukan selanjutnya untuk pasien.

Early Warning System Score (EWSS) atau disebut juga Early Warning Score (EWS) adalah sebuah sistem pemantauan dengan skoring fisiologis umum yang digunakan di unit pelayanan medikal bedah sebelum pasien mengalami kondisi kegawatan. Alat ini sederhana dan mudah digunakan disamping tempat tidur, sehingga perawat akan lebih siap mengevaluasi perubahan kondisi pasien dan melakukan intervensi dengan tepat. Sistem Nasional Akreditas Rumah Sakit (SNARS) edisi satu telah memasukkan sistem EWS dalam penilaian akreditasi, sehingga dengan adanya regulasi ini, rumah sakit di Indonesia dituntut untuk dapat menerapkan alat deteksi dini ini dalam menentukan pasien mana yang perlu dipantau dengan lebih intensif.

Dalam meningkatkan angka keselamatan dan pemantauan dini pasien melalui EWS dapat mencegah perburukan kondisi bahkan terjadinya henti jantung. Perubahan parameter dapat diamati 6 sampai dengan 8 jam sebelum terjadinya henti jantung dan panggilan code blue. EWS terdiri dari 7 parameter yang terdiri dari pernafasan, saturasi oksigen, tekanan darah sistolik, nadi, tingkat kesadaran, suhu dan tambahan skor 2 jika pasien mengunakan alat bantu nafas untuk mempertahankan saturasi oksigen pasien. Masing-masing parameter akan dikonversikan kedalam bentuk angka. Dimana makin tinggi nilainya maka makin abnormal keadaan pasien sehingga menjadi indikasi untuk dilakukan tindakan pertolongan sesegera mungkin. Pengkajian EWS dapat dilakukan pada pasien baru di IGD dan ruang rawat inap.

EWS sendiri memiliki manfaat seperti :

  • Mudah digunakan dan ditafsirkan, sehingga memberikan bahasa yang sama di seluruh penyedia layanan kesehatan dan spesialisasi.
  • EWS dapat diterapkan secara universal untuk semua pasien rawat inap tanpa membatasi mereka pada diagnosis penyakit tertentu.
  • Untuk membantu pengambilan keputusan klinis
  • Dapat memberikan kepada dokter risiko waktu nyata dan peringatan spesifik tentang faktor risiko berdampak yang dimiliki pasien yang memburuk dan memberikan saran kepada dokter tentang rencana perawatan kesehatan tindak lanjut individual, seperti peningkatan pemantauan tanda-tanda vital, penilaian perawat intensif kondisi pasien, dan tinjauan medis yang ditingkatkan oleh dokter.
  • EWS menargetkan semua pasien yang dirawat di rumah sakit terlepas dari status Do Not Resuscitate.
  • EWS memiliki efek langsung pada pengurangan kematian dan serangan jantung.

Diharapkan dengan adanya EWS ini pelayanan kesehatan di rumah sakit dapat menjadi semakin optimal. Khususnya perawatan dalam mencegah dan mendeteksi lebih awal akan terjadinya perburukan pada kondisi pasien.

Lebih lanjut terkait informasi PELATIHAN EARLY WARNING SYSTEM KLIK DISINI

EWS Code Blue